Tindak terorisme semakin meresahkan masyarakat, setelah kejadian kerusuhan tahanan narapidana terorisme di Markas Komando Brimob Kelapa Dua(10/5/2018), secara beruntun terjadi peristiwa bom di Surabaya dan Sidoarjo (13/5/2018) kemudian di Mapolda Riau (16/5/2018).

Pemerintah melalui BNPT menyelenggarakan program Deradikalisme. Deradikalisme adalah sebuah program yang bertujuan untuk menetralkan pemikiran-pemikiran bagi mereka yang sudah terkapar dengan radikalisme. Sasaran program ini para narapidana terorisme yang berada di tahanan dan masyarakat yang sudah mempelajari pemikiran tentang paham terorisme.

Terjadinya kembali tindakan teror merupakan tanda belum optimalnya program deradikalisme dilaksanakan. Wakil Ketua MPR RI Mahyudin, mengacu pada aksi teror yang beberapa hari terakhir kembali dilancarkan kelompok radikal.“Masih kurang optimal, (itu) bisa dilihat dari banyaknya residivis terorisme  yang setelah keluar (dari penjara), kembali menjadi teroris,“ ujar Mahyudin, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat (14/5/2018).

Menurutnya, pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap program yang ia anggap masih memiliki kelemahan itu. Tribunnews.com (14/5/2018)

Presiden Joko Widodo, sudah menyatakan sikap untuk mengevaluasi upaya penanganan teroris, masyarakat diminta agar tetap tenang dan aktif membantu pemerintah menangkal gerakan radikalisme yang muncul.

Insiden yang terjadi di rumah tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua Depok, menjadi perhatian internasional. Lima anggota Polri tewas di tangan narapidana teroris yang melakukan kerusuhan kerusuhan. Selain menewaskan lima polisi, mereka juga sempat merebut senjata api milik polisi untuk melakukan perlawanan.

 

Sumber;

  1. id, “Deradikalisme Cegah Radikalisme,” https://indonesiabaik.id/infografis/cegah-radikalisme-dengan-deradikalisasi (diakses 17 Mei 2018)
  2. tribunews.com, “Program Deradikalisasi Dinilai Kurang Optimal,“ http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/15/program-deradikalisasi-dinilai-kurang-optimal (diakses 17 Mei 2018)